Jumat, 18 Juli 2008

Majalah Lama: "Zaman" Edisi Perdana & No. I/Thn I Oktober 1979






Motto: Mingguan untuk Seluruh Keluarga. Majalah ini bolehlah disebut sebagai "mimesis" (dalam arti luas) majalah Boss. Edisi Perdananya terbit pada minggu ke-II, September 1979, tetapi menggunakan SIT (Surat Ijin Terbit) bertanggal 31 Desember 1973 dengan keterangan: Untuk melanjutkan penerbitan MM Boss.

Edisi Perdana Zaman dibagikan secara gratis. Baru pada edisi No. 1/Thn I, Minggu I, Oktober 1979, majalah ini dijual dengan harga Rp. 250,-. Diterbitkan oleh Yayasan Bapora bekerjasama dengan PT Grafiti Pers, Penerbit Majalah TEMPO (waktu itu).

Dalam perjalanannya, di majalah ini berkumpul para seniman dan budayawan yang sudah tak asing lagi namanya di Indonesia, misalnya Danarto, Jim Supangkat, Nano Riantirano, Sori Siregar, Seno Gumira Ajidarma, Ananda Moersid, dan lain-lain. Pemimpin Redaksi: Goenawan Mohamad. Redaktur Pelaksana: Putu Wijaya.

Saya sendiri memulai karier jurnalistik di majalah ini. Mula-mula hanya menulis cerita pendek (cerpen), kemudian berlanjut dengan menulis artikel-artikel lainnya hingga majalah ini ditutup.

Majalah Zaman ditutup oleh "Tempo" pada 1985. Lalu pada tahun berikutnya "Tempo" menerbitkan majalah baru: MATRA (Agustus 1986).

Catatan:

Redaktur Pelaksana Majalah Zaman, Putu Wijaya, adalah seorang sastrawan yang dikenal serba bisa. Lelaki kelahiran Puri Anom, Tabanan, Bali, 11 April 1944, ini sudah menulis kurang lebih 30 novel, 40 naskah drama, sekitar seribu cerpen, ratusan esei, artikel lepas, dan kritik drama. Ia juga telah menulis skenario film dan sinetron. Sebagai seorang dramawan, ia memimpin Teater Mandiri sejak 1971, dan telah mementaskan puluhan lakon di dalam maupun di luar negeri. Puluhan penghargaan ia raih atas karya sastra dan skenario sinetron.

“Menulis adalah menggorok leher tanpa henti,“ katanya, “bahkan kalau bisa tanpa diketahui.“ Kesenian diibaratkannya seperti baskom, penampung darah siapa saja atau apa punyang digorok situasi, problematik, lingkungan, misteri, dan berbagai makna yang berserak. “Kesenian,“ katanya, “merupakan salah satu alat untuk mencurahkan makna, agar bisa ditumpahkan kepada manusia lain secara tuntas.”

Rekan-rekannya heran, bagaimana ia bekerja. Ketika ia mengelola majalah Zaman, ia juga menulis cerita pendek, novel, lakon, dan mementaskannya lewat Teater Mandiri, yang dipimpinnya. Di samping itu, ia mengajar pula di Akademi Teater, Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Harian Kompas dan Sinar Harapan kerap memuat cerita pendeknya. Novelnya sering muncul di majalah Kartini, Femina, dan Horison. Memenangkan lomba penulisan fiksi baginya sudah biasa. Sebagai penulis skenario, ia dua kali meraih piala Citra di Festival Film Indonesia (FFI), untuk Perawan Desa (1980) dan Kembang Kertas (1983). Sebagai penulis fiksi sudah banyak buku yang dihasilkannya. Di antaranya, yang banyak diperbincangkan; Bila Malam Bertambah Malam, Telegram, Pabrik, Keok, Tiba-tiba Malam, Sobat, Nyali.

Pengarang yang produktif ini menegaskan, “teater bukan sekadar bagian dari kesusasteraan, melainkan suatu tontonan.” Naskah sandiwaranya tidak dilengkapi petujuk bagaimana harus dipentaskan. Agaknya, memberi kebebasan bagi sutradara lain menafsirkan. Bila menyinggung problem sosial, karyanya tanpa protes, tidak mengejek, juga tanpa memihak. Tiap adegan berjalan berjalan tangkas, kadang meletup, diseling humor. Mungkin ini cerminan pribadinya. Individualitasnya kuat, dan berdisiplin tinggi. Ayahnya, I Gusti Ngurah Raka (almarhum), seorang pensiunan punggawa yang keras mendidik anak. Biasa dipanggil Putu atau Wid, ia bungsu dari tiga bersaudara seibu. Semula ayahnya mengharapkan Putu menjadi dokter. Namun, Putu lemah dalam ilmu
pasti. Ia akrab dengan sejarah, bahasa, dan ilmu bumi.

Semasa di SD, “saya doyan sekali membaca,“ tuturnya, “mulai dari karangan Karl May, buku sastra Komedi Manusia-nya William Saroyan, sampai cerita picisan yang merangsang birahi.” Minatnya mengarang tumbuh ketika di SMP, 1959. Cerita pendek Wid yang pertama, Etsa, dimuat harian Suluh Indonesia edisi Bali. Main drama diawali waktu di SMA, pertama kali berperan dalam Badak, karya Anton Chekov. Pindah
ke Yogyakarta, ia kuliah di Fakultas Hukum UGM. Meski sambil tetap berkesenian, kuliah di Asdrafi, dan Asri. Juga anggota Bengkel Teater-nya Rendra. Toh ia lulus juga di Jurusan Perdata, FH UGM 1969.

Mulai menetap di Jakarta, Wid bergabung dengan Teater Kecil asuhan Arifin C. Noer. “Hidup saya saat itu dari menulis resensi pertunjukan dan esai di harian Kompas, Sinar Harapan, dan majalah Horison,“ ceritanya. Beberapa bulan pernah hidup di Ittoen, Jepang, ia mempelajari Kabuki, 1973. Lalu ia ikut International Writing Programme di Iowa, AS. Sebelum pulang ke Indonesia, mampir di Perancis, ikut main di Festival Nancy.

Penggemar musik dangdut, rock, dan klasik karya Bach atau Vivaldi ini juga menyukai Jazz dari Stan Get sampai Mile Davis. Pada 1977, ia menikah dengan Renny Retno Yooscarini, beroleh seorang anak, Yuka Mandiri.

“Sebelum menikah saya menulis Sah. Eee, saya mengalami persis seperti yang saya tulis,“ ujarnya. “Pernikahan saya bubar pada 1984.” Tetapi ia tidak lama menduda. Pertengahan 1985, ia mengawini gadis Sunda, Dewi Pramunawati. Bersama Dewi, Putu Wijaya selanjutnya hidup di Amerika Serikat selama setahun. Ia jadi dosen tamu untuk kuliah sastra Indonesia moden dan teater di Universitas Wisconsin dan Universitas Illinois, AS.

N

3 komentar:

Kantong Buku mengatakan...

Sayang ya pak Zaman tergilas Zaman. Bapak punya koleksi majalah anak Si Kuncung nya pak Kanto?

Kerajaan Cantung mengatakan...

Mohon maaf pak..punya majalah "ananda" edisi semut merah semut hitam gak ya?makasih

trinanti mengatakan...

Apakah Bapak punya seluruh koleksi Majalah Zaman? ataukah Bapak memiliki informasi di mana kiranya saya bisa mendapatkan majalah tersebut dari edisi 1979 hingga 1985? terima kasih sebelumnya.