

Judul Buku: Riwajat 40 Taon T.H.H.K (Tiong Hoa Hwe Koan) Batavia (1900 – 1939).
Tebal: 380 + +
Penulis: Nio Joe Lan (Redaktur “Sin Po” Melayu).
Penerbit: Tiong Hoa Hwe Koan – Batavia.
Tahun: 1940
Menurut saya, buku ini sangat layak (bahkan mungkin wajib) dibaca oleh semua generasi muda etnis Tiong Hoa yang ada di Indonesia. Mengapa? Meski secara khusus buku ini menulis riwayat perkumpulan Tiong Hoa Hwe Koan, tetapi di dalamnya banyak informasi penting lainnya. Misalnya, riwayat sekolah Tiong Hoa, juga situasi sosial dan perilaku etnis Tiong Hoa sebelum dan sesudah perkumpulan ini didirikan. Dan lain sebagainya.
Sebenarnya menarik kalau mau membedah buku ini lebih jauh. Tapi tentu akan memakan halaman cukup panjang. Intinya, buku ini dibagi dalam 3 (tiga) bagian besar. Bagian I mengisahkan lima tahun pertama perkumpulan ini (1900 - 1904). Bagian II masuk ke periode 1905 – 1914, dan Bagian III adalah tahun 1915 hingga 1939.
Di bagian akhir banyak sekali lampiran penting yang disertakan. Dan yang sangat mengesankan, di bagian akhir buku ini terdapat ratusan foto baik tokoh maupun aktivitas organisasi ini di berbagai daerah di Indonesia.
THHK Batavia sebenarnya mulai dibentuk (akte notartis) pada 17 Maret 1900. Tapi baru mendapat “restu” dari Gubernur-General Nederlandsch-Indie pada 3 Juni 1900, dan diumumkan di “Javasche Courant” No. 46, edisi 8 Juni 1990.
Banyak sekali yang sudah dilakukan atau jasa dari THHK Batavia ini. Di antaranya, berdirinya Hollandsch-Chineesche Scholen. Lalu diperkenankannya anak-anak Tiong Hoa belajar di Europeesche Lagere Scholen oleh pemerintah setempat. Dan yang tak kalah pentingnya adalah tentang penggunaan dialek “Tjeng-im” atau “Kuo-yu” dalam pelajaran bahasa Tionghoa di sekolah. Hal terakhir ini adalah buah pikiran dari Phoa Keng Hek (yang kemudian menjadi presiden THHK Batavia). Sebab beliau melihat, betapa sukarnya memberi pelajaran dalam beberapa dialek seperti Hakka, Hokkian, Kangfoe dan lain-lain. Aneka dialek ini, pada waktu itu, tak jarang malah menimbulkan perseteruan atau percekcokan karena tidak ada kerukunan dan kerap terjadi salah paham.
Wah, ini kalau saya terus-teruskan bisa jadi panjang nih. Sudah, pokoknya buku ini, sekali lagi menurut saya, menarik dan penting!
Foto yang tampak di blog ini adalah Almarhum Tuan Phoa Keng Hek, President Pertama dari THHK Batavia.