Rabu, 23 Juli 2008

Majalah Lama: "Ekspres" Versi Lama dan Baru




Majalah mingguan Berita Bergambar ini diterbitkan oleh PT Aksi Press. Di tahun-tahun awal, Ekspres "Lama", sebut saja sampai Oktober 1970, pengurus majalah ini adalah Pemimpin Umum: Marzuki Arifin. Wakil Pemimpin Umum: Christianto Wibisono. Pemimpin Usaha: Nurman Diah. Pemimpin Redaksi: Goenawan Mohamad. Wakil Pemimpin Redaksi: Fikri Jufri. Redaktur Pelaksana: Usamah. Staf Redaksi: Toeti Kakiailatu; Sukarno.

Namun, pada edisi September 1972, misalnya, sudah terjadi perubahan pengelola. Di Ekspress "Baru" ini, Pemimpin Umum/Redaksi: Marzuki Arifin, S.E. (Pemrednya bukan lagi Goenawan Mohamad). Tak ada lagi posisi wakil pemred (sebelumnya Fikri Jufri). Redaktur Pelaksana diisi beberapa orang: Hans Sinaulan; Drs. Surosokaskojo Sukartin; Gunawan Sona, LLM (sebelumnya cuma Usamah sendiri).

Dan pada 1973, susunan pengelolanya berganti lagi: Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi: Marzuki Arifin S.E. Wakil: Hans Sinaulan. Managing Editor: Gunawan Sonda L.L.M.

Laporan Utama Ekspres "Baru" edisi 31 Agustus 1973 ini adalah soal “Wanita yang menghebohkan”. Adapun wanita-wanita yang disebut menghebohkan di situ adalah: Debby Cynthia Dewi, Windy Djatmiko, Tutie Kirana, Syarifah Sifa, Andi Nurhayati, Poppy Dharsono, Rima Melati, dan Rachmawati Soekarnoputri.

Majalah yang tampak di blog ini adalah "Ekspres versi Lama" dan "Ekspres versi Baru".

Catatan:

Goenawan Mohamad, Pemimpin Redaksi Majalah Ekspres, adalah juga sastrawan Indonesia terkemuka. Ia kemudian mendirikan Majalah Tempo bersama Fikri Jufri dan kawan-kawannya yang lain.

Goenawan juga dikenal sebagai seorang intelektual yang punya wawasan luas. Selama kurang lebih 30 tahun menekuni dunia pers, ia menghasilkan berbagai karya yang sudah diterbitkan, di antaranya kumpulan puisi dalam Parikesit (1969) dan Interlude (1971), yang diterjemahkan ke bahasa Belanda, Inggris, Jepang, dan Prancis. Sebagian eseinya terhimpun dalam Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972), Seks, Sastra, dan Kita (1980).

Tetapi, lebih dari itu, tulisannya yang paling terkenal dan populer adalah Catatan Pinggir, sebuah artikel pendek yang dimuat secara rutin di halaman paling belakang majalah mingguan Tempo. Konsep dari Catatan Pinggir adalah sekadar sebagai sebuah komentar ataupun kritik terhadap batang tubuh yang utama. Artinya, Catatan Pinggir mengambil posisi di tepi, bukan posisi sentral. Sejak kemunculannya di akhir tahun 1970-an, Catatan Pinggir telah menjadi ekspresi oposisi terhadap pemikiran yang picik, fanatik, dan kolot.

Setelah pembredelan Tempo pada 1994, ia mendirikan ISAI (Institut Studi Arus Informasi), sebuah organisasi yang dibentuk bersama rekan-rekan dari Tempo dan Aliansi Jurnalis Independen. Bersama sejumlah cendekiawan ia terus memperjuangkan kebebasan ekspresi.

Di Jalan Utan Kayu 68H, ISAI menerbitkan serangkaian media dan buku perlawanan terhadap Orde Baru. Sebab itu di Komunitas Utan Kayu ia bertemu banyak elemen: aktivis pro-demokrasi, seniman, dan cendekiawan, yang bekerja bahu membahu dalam perlawanan itu. Dari ikatan inilah lahir Teater Utan Kayu, Radio 68H, Galeri Lontar, Kedai Tempo, Jaringan Islam Liberal, dan terakhir Sekolah Jurnalisme Penyiaran. Semua aktivitas itu merupakan cita-cita untuk melanjutkan perlawanan terhadap pemberangusan ekspresi.

Tahun 2006, Goenawan mendapat anugerah sastra Dan David Prize, bersama antara lain eseis & pejuang kemerdekaan Polandia, Adam Michnik, dan musikus Amerika, Yo-yo-Ma. Lalu tahun 2005 ia bersama wartawan Joesoef Ishak mendapat Wertheim Award. Aneka penghargaan lain juga pernah diterimanya.

N

3 komentar:

Bambang mengatakan...

Redaktur : FT Songisewu (Song) sekarang bermukim di Australia ganti nama menjadi Dr Francis Song PhD

ting mengatakan...

situs blog Francis Song :
www.bogorindonesia.wordpress.com

Anonim mengatakan...

Good fill someone in on and this post helped me alot in my college assignement. Thanks you seeking your information.