Minggu, 20 Juli 2008

Bundel Buletin MPRS No. 1 Tahun I Januari 1967 s/d No. 10 Oktober 1967


Bundel ini berisi buletin MPRS mulai No. 1 Tahun I Januari 1967 sampai No. 10 Tahun I Oktober 1967. Diterbitkan setiap bulan oleh Sekretariat MPRS yang berkantor di Sekretariat MPRS, Jl. Pegangsaan Barat No. 4, Jakarta.

Isinya adalah segala hal yang berkaitan dengan aktivitas MPRS, termasuk Keputusan MPRS dan sedikit selingan berita-berita keluarga, misalnya berita kematian anggota MPRS.

Majalah Lama: "Moestika Dharma" Juli 1934


Moestika Dharma adalah majalah tentang Agama, Kebatinan dan Filsafat. Majalah ini masih satu grup dengan majalah Moestika Romans, yang banyak membahas masalah kesenian, jurnalisme, dan dongeng-dongen masa lalu. Kantor kedua majalah ini ada di Prinsenlaan No. 69, Batavia.

Moetika Dharma diterbitkan oleh Kwee Tek Hoay. Penulis-penulis lain yang menunjang penerbitan ini, antara lain, Boen Sing, Tjoa Sie Wan, Tjoa Hin Hoeij, Tan Lien Nio, So Chuan Hong, Kwee Sim Kiong, Tan Biauw Kie, Auw Ing Kiong, Pouw Kioe An, Ie Tek Oen, Tan Tik Ko, dan lain-lain.

Majalah Baru: "Tani Merdeka" Edisi Perdana


Media komunikasi petani ini dipimpin oleh Prabowo Subianto (sebagai Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi). Redaktur Pelaksana: M. Asrian Mirza & Syahril Chili.

Majalah ini memuat masalah-masalah pertanian, perikanan,perkebunan, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan bidang tersebut. Termasuk analisis dari beberapa tkoh masyarakat. Pada edisi No. 1 ini, misalnya, ada Kolom dari Fadli Zon, M. Husein Sawit, Martin H. Hutabarat, Endang S. Tohari, Prof Suhardi, Winarno Tohir, dan Rachmat Pambudy.

Majalah yang tampak di blog adalah edisi No.1/Juli 2007 (Perdana). Harga: Rp. 15.000,-

Majalah Baru: "Playboy Indonesia" Edisi Awal & Akhir



Penerbit: PT Velvet Silver Media. Direktur: Erwin Arnada, Ponti Corolus, Stephen Walangitang, dan Reza Maulana. Pemimpin Redaksi: Erwin Arnada. Wakil: Arian Arifin.

Playboy Indonesia ini terbit pertama kali pada April 2006. Pada masa sebelum dan awal penerbitannya, majalah ini menuai protes dari beberapa kelompok masyarakat. Tapi tak sedikit juga pendukungnya.

Dalam edisi perdana ini, Playboy Indonesia memuat wawancara panjang dengan Pramoedya Ananta Toer. Cover Depan: Andhara Early. Entah kenapa, Palyboy Indonesia akhirnya memutuskan untuk berhenti terbit. Edisi terakhirnya adalah bulan Juni 2007.

Majalah yang tampak di blog adalah edisi awal dan akhir. Harga: Rp. 39.000,- (Jawa) dan Rp. 40.000,- (Luar Jawa).

Majalah Lama: "KOMPAS" Tahun 1952


Penerbit: Jajasan "Kompas". Alamat Redaksi: Jl. Raden Saleh No. 27, Jakarta Pusat. . Pemimpin Umum: Suharto Padmodarmojo. Pemimpin Redaksi: Nugroho Ns. Redaksi: Ramadhan KH, Harry Suhardjo, Muharjo Djojodigdo, M. Sudjati Suria, dan Hasto.

Jika koran harian Kompas yang kita kenal sekarang ini terbit pertama pada 28 Juni 1965, maka jauh sebelumnya "Majalah KOMPAS" ini sudah ada, yakni sejak tahun 1951. Terbit dua kali sebulan.

Sasaran majalah ini, seperti tertulis di majalahnya, diperuntukkan bagi generasi baru yang berhasrat memperdalam keinsyafan dan memperluas penetahuan untuk menempuh haluan baru dalam hidupnya.

Gambar yang Anda lihat di blog ini adalah Majalah KOMPAS No. 15 Tahun II November 1952.

Pertemuan FD di Rumah Gus Dur


Ciganjur, 15 Mei 1993. Acara ini diselenggarakan di halaman belakang rumah Gus Dur, di Ciganjur. Beberapa peserta yang datang, antara lain, Rahman Tolleng, Marsillam Simanjuntak, Adnan Buyung Nasution, Mulya Lubis, Chris Siner, Daniel Dhakidae, Rocky Gerung, Max Riberu, Eros Djarot, Bondan Gunawan, dan masih banyak lagi. Saya juga ikut hadir.

Acara ini cukup istimewa karena dalam acara ini kemudian dikeluarkan semacam "keputusan", "resolusi" atau "sikap resmi" dari Forum Demokrasi pada saat itu. Salah satu bunyi "sikap resmi" itu adalah: Forum Demokrasi mendukung berdirinya partai baru.

Kalau keputusan atau sikap itu dinyatakan sekarang, mungkin tak ada artinya apa-apa. Saat ini orang boleh bicara apa saja, teriak apa saja. Tapi, dalam konteks politik saat itu, hal ini sangat sensitif.

Entah bagaimana ceritanya, beberapa hari kemudian wartawan The Jakarta Post menghubungi saya. Dengan polosnya saya katakan bahwa salah satu kesepakatan yang kami hasilkan adalah bahwa Forum Demokrasi mendukung berdirinya partai baru.

Eh, ternyata apa yang saya katakan itu menjadi headline di harian The Jakarta Post. Maka "gegerlah" Forum Demokrasi hua..ha..ha...

Tidak ada yang salah dengan ucapan saya yang dikutip koran itu. Dan memang demikian keputusan Forum Demokrasi. Tapi, ketika hal itu dimuat di media massa, satu-dua orang menganggap ini "berbahaya" atau "nggak enak" sama para petinggi negeri ini. Tapi sebagian besar yang lain malah senang dan mendukung. Bagi para pendukung ini, Forum Demokrasi memang sudah waktunya bersuara terus terang, legih tegas, dan "lebih berani". Saya termasuk golongan yang ini he..he..he..

Semua itu telah menjadi kenangan indah dalam usaha kecil agar Indonesia lebih demokratis.

Fiksi: "Atheis"


Judul: Atheis.
Pengarang: Achdiat K. Mihardja.
Penerbit: Balai Pustaka, Cet. Pertama 1949; Cet. Ketujuh Belas 2000.
Tebal: 232 halaman.
ISBN: 979-407-185-4.

Sabtu, 19 Juli 2008

Majalah Lama: "Tracee Baru" Edisi Perdana


Penerbit: N.V. Harapan Masa. Pemimpin Umum: Kol. Ud. Ir. G.B. Dharma Setia. Pemimpin Redaksi: Drs. H. Nurulhuda.

Majalah ini merupakan "kelanjutan" dari majalah "Sanggar Remadja" yang tak lagi terbit. Sedikit berbeda dengan Sanggar Remadja, yang menyasar kaum remaja, majalah Tracee Baru ini kelihatan lebih dewasa. Tracee Baru berisi artikel-artikel umum, dengan penekanan pada masalah kebudayaan, pendidikan, keluarga, human interest, dan hiburan.

Majalah yang tampak di blog adalah edisi No. 1/Tahun I/Juni 1967. Harga Eceran: Rp. 15,-

Fiksi: "Hilanglah Si Anak Hilang"


Judul: Hilanglah Si Anak Hilang
Pengarang: Nasjah Djamin.
Penerbit: PT Dunia Pustaka Jaya, Cet. Kedua, 1977.
Tebal: 96 halaman.

Majalah Lama: "SFF" Tahun 1972



Majalah bergambar Emilia dan Helmi di atas adalah majalah SFF (Sport Fashion Film) No. 8/1 April 1972. Tampak Emilia yang masih muda dan cantik. Majalah tengah bulanan ini diterbitkan oleh PT Ekselerator, Inc., yang berkantor di Jl. Pintu Air V/55, Jakarta.

Direktur Utama: Aloysius S. Dewan Direksi: Aditya; Marzuki Arifin S.E.; Bob Harijanto; Satio Dewabratha. Pemimpin Umum/Redaksi: Marzuki Arifin S.E. Redaksi Pelaksana: Rey Hanityo; Jules Fioole.

Di dalam majalah ini ada ekstra poster-kalender bulan April 1972 bergambar Emilia Contessa & Helmy Suncar.

Majalah kedua yang bergambar Rima Melati adalah edisi 16/September 1972. Di dalamnya ada artikel tentang keluhan Rima Melati terhadap kondisi perfilman nasional.

Berita-berita olahraga yang dimuat juga cukup variatif. Majalah ini dijual dengan harga (saat itu): Rp. 150,-.

Majalah Lama: "POP" Tahun 1974



Majalah ini masih satu grup dengan majalah SFF. Penerbitnya pun sama: PT Ekselerator, Inc. Hanya pengurusnya saja yang berbeda.

Pemimpin Umum: Al Sugiyanto. Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab: Rey Hanityo. Pemimpin Usaha: M. Sjamsutidjal. Staff Redaksi: Dadi Sumardiko; Isaac Sinjal; Dino Suharno.

Jika SFF adalah singkatan dari Sport Fashion Film, maka POP adalah singkatan dari Peragaan Olahraga Perfilman. Jadi, boleh dibilang majalah ini adalah sama jenis dan menyasar market yang sama.

Majalah pertama, bergambar Windy Jatmiko, adalah edisi 14/Agustus 1974. Sedangkan majalah kedua, bergambar Lenny Marlina, adalah edisi 17 tahun yang sama.

Mengingat media ini diterbitkan tahun 1974, majalah ini termasuk yang cukup percaya diri. Di cover depannya tak ada judul-judul artikel (biasa disebut teks cover) lain selain nama tokoh yang dimuat. Ini bukan media pertama yang tanpa terks cover i halaman depan. Sebelumnya sudah ada media seperti ini, seperti misalnya majalah Varia (juga ada di blog ini).

Majalah ini diterbitkan dua kali dalam sebulan, setiap tanggal 1 dan tanggal 15. Harga: Rp. 250,-.

Majalah Lama: "Star Weekly" Tahun 1956



Penerbit: PT Pers Dagang & Percetakan “Keng Po”. Alamat Redaksi: Pintu Besar No. 86 - 88, Djakarta Kota. Pemimpin Redaksi: Mr. Auwjong Peng Koen. Wakil Pemimpin Redaksi: Tan Hian Lay.

Majalah yang muncul tiap Sabtu ini sangat berbobot dan digemari banyak orang. "Dulu, meskipun miskin, tapi saya selalu berusaha membeli majalah Star Weekly," kata Rahman Tolleng, aktivis politik senior, pada saya Jumat 18 Juli 2008, lalu. Sebenarnya, ini bukan pertama kali Rahman Tolleng memuji kualitas Star Weekly. Dalam beberapa kali percakapan sebelumnya beliau juga mengatakan hal yang senada. Star Weekly ini, kalau saya tak salah sudah terbit sejak akhir 1940-an (sebab saya punya edisi no. 161 yang terbit pada 30 Januari 1949).

Isi Star Weekly cukup bervariasi. Dari tinjauan dalam negeri, luar negeri, juga berisi cerita silat, cerita detektif, komik, juga cerita pendek (cerpen). Beberapa penulis cerpen yang karyanya sempat muncul, antara lain, M Balfas, Effendy Sahib, Marya Idrus, dan Iwan Simatupang.

Seperti kita tahu bersama, Auwjong Peng Koen ini kemudian dikenal sebagi P.K. Ojong. Beliau, bersama Jacob Oetama, kemudian mendirikan Harian Kompas (28 Juni 1965). P.K. Ojong meninggal dunia pada 1980.

Catatan:

Pemimpin Redaksi Majalah Star Weekly ini, Auwjong Peng Koen, kemudian kita kenal sebagai P. K. Ojong. Adapun nama lengkapnya adalah Petrus Kanisius Ojong. Beliau, bersama Jakob Oetama, kemudian mendirikan Harian Kompas pada 28 Juni 1965.

Lelaki kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 Juli 1920, ini menjadi jurnalis sejak usia 30-an. Sejak sekolah di Hollandsche Chineesche Kweekschool (HCK, sekolah guru), ia gemar membaca koran dan majalah yang dilanggani perkumpulan penghuni asrama. Di sini ia mulai belajar menelaah cara penulisan dan penyajian gagasan. Di sekolah guru setingkat SLTA ini, ia terpilih sebagai ketua perkumpulan siswa yang bertugas menyediakan bahan bacaan bagi anggota serta menyelenggarakan pesta malam Tahun Baru Imlek dan piknik akhir tahun.

Kelak kebiasaan hemat membuatnya hati-hati dan teliti. Disiplin dan tekun membentuk beliau menjadi orang yang lurus dan serius. Bahkan setelah menjadi bos Kompas – Gramedia, P.K. Ojong tak berubah. “Uang kembalian Rp 25,- pun mesti dikembalikan kepada Papi,” kata putri bungsunya, Mariani. Namun, ia tak “pelit” pada orang atau badan sosial yang benar-benar membutuhkan, bahkan rela menyumbang sampai puluhan juta dolar. Tapi, jangan minta uang untuk pesta kawin, atau perayaan Natal sekalipun. “Kalau tidak punya uang, jangan bikin pesta,” katnya, selalu.

P. K. Ojong meninggal di Jakarta, 31 Mei 1980, pada usia 59 t ahun.

N

Majalah Lama: "Tjahaja Pasoendan" 1913 - 1919



Majalah berbahasa Sunda: Thajaja Pasoendan. Ada 2 (dua) bundel. Dari terbitan No. 4 Thn I, 28 Februari 1913 sampai No. 1 Tahun VII 15 Januari 1919.

Majalah ini terbit 2 (dua) kali dalam sebulan, setiap tanggal 15 dan 30. Penanggung Jawabnya: M. Soeradimadja. Lalu, pada tahun-tahun kemudian ditulis: Redacteur & Administrateur-nya: A.H. Wignjadisastra.

Karena menggunakan bahasa Sunda, urang entek ngartos isinya euy...

Jumat, 18 Juli 2008

Majalah Lama: "Sin Po" Majalah dan Koran







Saya punya beberapa edisi majalah Sin Po. Dua majalah yang terlihat di blog ini adalah edisi 9 Desember 1939 dan 16 Desember 1939. Sedangkan koran hariannya edisi Senen 12 November 1951.














Dilihat dari tahun penerbitannya, dan tulisan di bawah logo (Wekelijksche – Editie), Sin Po pada mulanya adalah majalah mingguan. Baru kemudian menjadi koran harian.

Entah kenapa, dalam versi majalah, tak ada susunan redaksinya. Juga tak ada nama penerbitnya. Tapi, dari beberapa iklan yang dimuat, dan kemudian dari korannya, Sin Po diterbikan oleh N.V. Pertjetakan “SIN PO”. Kantor redaksinya ada di Jl. Asemka No. 29 -30 (yang sekarang menjadi Bank BCA Cabang Asemka).

Tulisan-tulisan di Sin Po cukup berbobot, baik di majalah maupun koran hariannya. Khusus di dalam majalah Sin Po, selalu ada suplemen beberapa halaman berita-berita yang ditulis dalam bahasa Belanda (namanya Hollandsch Sin Po Supplement). Halaman lain ditulis dalam bahasa Indonesia ejaan lama.

Catatan:

Seperti tertulis dalam buku Tokoh-tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia oleh Sam Setyautama, diketahui bahwa direktur Sin Po adalah Hauw Tek Kong. Dan salah satu tokoh jurnalis di media ini adalah Tjoe Bou San (Nama Pena: Hauw Sen Liang).

Tjoe Bou San lahir di batavia pada 1891. Sebelum bekerja di Sin Po, pada 1909 Tjoe Bou San sudah menjadi pemimpin redaksi Hoa Tok Po, sebuah surat kabar peranakan Melayu Tionghoa. Ia lalu pindah ke Surabaya dan menjadi pemimpin redaksi Thjoen Tjhioe sampai Juni 1917. Ia lalu pergi ke Tiongkok dan bekerja sebagai koresponden Sin Po di sana.

Lalu, pada 1918 ia kembali ke Jakarta dan menjadi pemimpin redaksi sekaligus pemimpin umum Sin Po. Di bawah pimpinannya, Sin Po menjadi juru bicara kelompok nasionalis Tionghoa di Jawa. Ia pernah berkampanye anti undang-undang Kekaulaan/Kewarganegaraan 9onderdaanschap) Belanda pada 1919. Ia berhasil mengumpulkan 30.000 tanda tangan orang Tionghoa yang tidak mau menjadi kawula Belanda.

Entah kenapa, Tjoe Bou San bentrok dengan Hauw Tek Kong. lalu pada 1923 ia mnerbitkan Keng Po. Dalam usia 34 tahun, ia menderita sakit paru-paru. Dan meninggal dunia pada 3 November 1925.

Ia dikenal sebagai penulis, pengarang roman, penerjemah yang produktif. Beberapa bukunya, antara lain, Loen Gie; Beng Tjoe; Tiong Jong; Thay Hak (terjemahan); Pergerakan Tionghoa di Hindia Belanda (1917); Satoe Djodoh jang Tehalang (1917); Binasa Lantaran Harta (1915); Badjoenya Besar (1918); The Loan Eng (1912); Lia Taon Kemoedian (1925); Salah Mengerti (1925); Hoen Tjeng Lao 91925); Penghodoepan Radja Belgi (1913); Tjerita Pendjahat di paris (1917); dan Dengan Setalen Mengitari Boemi (1918).

Setelah Tjoe Bou San tidak lagi di Sin Po, posisi pemimpin redaksi di situ digantikan oleh Kwee Kek Beng. Wartawan ini lahir di Batavia pada 6 November 1900. Sebelum bekerja di Sin Po, ia bekerja sebagai guru di Bogor. Ia lalu diundang untuk bekerja di harian Bing Seng. Baru kemudian pindah ke Sin Po, dan menjadi pemimpin redaksi di situ sampai 1947.

N

Majalah Lama: "Aneka Ria" Tahun 1979


Penerbit: Yayasan Penerbit Nasional "Kurnia". Alamat: Jl. Wolter Monginsidi No. 24 Blok Q, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Pemimpin Umum: Paulus Kurniawan. Pemimpin Perusahaan: Harry Kusnadi. Wakil Pemimpin Perusahaan: Meiske. Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab: Soejoni DS. Pelaksana Redaksi: Tjipta Lesmana.

Majalah ini boleh saja dikategorikan sebagai majalah umum atau majalah keluarga. Isinya macam-macam. Ada soal antropologi, psikologi, profil, film, cerita bersambung, dan lain-lain.

Majalah yang ada di blog ini adalah Edisi No. 258 Tahun ke VIII/1979. Model Cover: Lisa Dona.

* Majalah ini masih satu grup dengan majalah Varianada.