Jumat, 25 Juli 2008

Fiksi Modern: "Rafilus" Tahun 1988


Judul: Rafilus.
Pengarang: Budi Darma.
Penerbit: Balai Pustaka, Cet. 1, 1988.
Tebal: 198 Halaman.
ISBN: 979-407-137-4

Fiksi Modern: "Saksi Mata" 1994


Judul: Saksi Mata.
Pengarang: Seno Gumira Ajidarma.
Penerbit: Yayasan Bentang Budaya, Cet. 1, 1994.
Tebal: 116 Halaman.
ISBN:

Majalah Lama: "Poestaka Timoer" Tahun 1940


Majalah ini terbit sejak awal tahun 1939 (jadi jaman Indonesia belum merdeka). Terbit dua kali sebulan tiap tanggal 1 dan 15. Harga 15 sen. Majalah yang ada di blog ini adalah edisi No. 23, 1 Januari 1940, Tahun I (Indonesia juga masih belum merdeka). Penerbitnya: Kolff-Bunning, Djogja.

Saya belum menemukan informasi siapa saja pengelola majalah ini, kecuali satu nama: Andjar. Nama ini yang menulis semacam kata pengantar di edisi ini, edisi tahun baru 1940. Nama penulis artikel lain yang muncul, antara lain, inisial A.A.; Tante Han; St. B. Nan Gadang, Krishna. Juga ada komik "Mentjari Poeteri Hidjau" oleh Nasoen AS.

Rabu, 23 Juli 2008

Majalah Lama: "Angkasa" Tahun 1962


Angkasa No. 16 Tahun XIII/1962. Majalah ini boleh disebut sebagai media resmi dari Angkatan Udara. Namun demikian, majalah yang terbit bulanan ini tetap dijual untuk umum. Harga ecerannya: Rp. 5,-. Direksi Angkasa adalah Asisten Dir. Penerangan Departemen Angkatan Udara RI. Pemimpin Redaksinya: LU II Muhammad Rasjid Mahdi. Alamat redaksi: Jl. Tanah Abang Bukit No. 36, Jakarta.

Pada edisi ini Angkasa membahas soal Hari Angkatan Bersenjata ke-XVII. Gambar di sampul depan adalah senjata terbaru (waktu itu) milik Angkatan Udara: peluru kendali jarak jauh, yang untuk pertama kalinya dipertontonkan di muka umum.

Majalah Lama: "Ekspres" Versi Lama dan Baru




Majalah mingguan Berita Bergambar ini diterbitkan oleh PT Aksi Press. Di tahun-tahun awal, Ekspres "Lama", sebut saja sampai Oktober 1970, pengurus majalah ini adalah Pemimpin Umum: Marzuki Arifin. Wakil Pemimpin Umum: Christianto Wibisono. Pemimpin Usaha: Nurman Diah. Pemimpin Redaksi: Goenawan Mohamad. Wakil Pemimpin Redaksi: Fikri Jufri. Redaktur Pelaksana: Usamah. Staf Redaksi: Toeti Kakiailatu; Sukarno.

Namun, pada edisi September 1972, misalnya, sudah terjadi perubahan pengelola. Di Ekspress "Baru" ini, Pemimpin Umum/Redaksi: Marzuki Arifin, S.E. (Pemrednya bukan lagi Goenawan Mohamad). Tak ada lagi posisi wakil pemred (sebelumnya Fikri Jufri). Redaktur Pelaksana diisi beberapa orang: Hans Sinaulan; Drs. Surosokaskojo Sukartin; Gunawan Sona, LLM (sebelumnya cuma Usamah sendiri).

Dan pada 1973, susunan pengelolanya berganti lagi: Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi: Marzuki Arifin S.E. Wakil: Hans Sinaulan. Managing Editor: Gunawan Sonda L.L.M.

Laporan Utama Ekspres "Baru" edisi 31 Agustus 1973 ini adalah soal “Wanita yang menghebohkan”. Adapun wanita-wanita yang disebut menghebohkan di situ adalah: Debby Cynthia Dewi, Windy Djatmiko, Tutie Kirana, Syarifah Sifa, Andi Nurhayati, Poppy Dharsono, Rima Melati, dan Rachmawati Soekarnoputri.

Majalah yang tampak di blog ini adalah "Ekspres versi Lama" dan "Ekspres versi Baru".

Catatan:

Goenawan Mohamad, Pemimpin Redaksi Majalah Ekspres, adalah juga sastrawan Indonesia terkemuka. Ia kemudian mendirikan Majalah Tempo bersama Fikri Jufri dan kawan-kawannya yang lain.

Goenawan juga dikenal sebagai seorang intelektual yang punya wawasan luas. Selama kurang lebih 30 tahun menekuni dunia pers, ia menghasilkan berbagai karya yang sudah diterbitkan, di antaranya kumpulan puisi dalam Parikesit (1969) dan Interlude (1971), yang diterjemahkan ke bahasa Belanda, Inggris, Jepang, dan Prancis. Sebagian eseinya terhimpun dalam Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972), Seks, Sastra, dan Kita (1980).

Tetapi, lebih dari itu, tulisannya yang paling terkenal dan populer adalah Catatan Pinggir, sebuah artikel pendek yang dimuat secara rutin di halaman paling belakang majalah mingguan Tempo. Konsep dari Catatan Pinggir adalah sekadar sebagai sebuah komentar ataupun kritik terhadap batang tubuh yang utama. Artinya, Catatan Pinggir mengambil posisi di tepi, bukan posisi sentral. Sejak kemunculannya di akhir tahun 1970-an, Catatan Pinggir telah menjadi ekspresi oposisi terhadap pemikiran yang picik, fanatik, dan kolot.

Setelah pembredelan Tempo pada 1994, ia mendirikan ISAI (Institut Studi Arus Informasi), sebuah organisasi yang dibentuk bersama rekan-rekan dari Tempo dan Aliansi Jurnalis Independen. Bersama sejumlah cendekiawan ia terus memperjuangkan kebebasan ekspresi.

Di Jalan Utan Kayu 68H, ISAI menerbitkan serangkaian media dan buku perlawanan terhadap Orde Baru. Sebab itu di Komunitas Utan Kayu ia bertemu banyak elemen: aktivis pro-demokrasi, seniman, dan cendekiawan, yang bekerja bahu membahu dalam perlawanan itu. Dari ikatan inilah lahir Teater Utan Kayu, Radio 68H, Galeri Lontar, Kedai Tempo, Jaringan Islam Liberal, dan terakhir Sekolah Jurnalisme Penyiaran. Semua aktivitas itu merupakan cita-cita untuk melanjutkan perlawanan terhadap pemberangusan ekspresi.

Tahun 2006, Goenawan mendapat anugerah sastra Dan David Prize, bersama antara lain eseis & pejuang kemerdekaan Polandia, Adam Michnik, dan musikus Amerika, Yo-yo-Ma. Lalu tahun 2005 ia bersama wartawan Joesoef Ishak mendapat Wertheim Award. Aneka penghargaan lain juga pernah diterimanya.

N

Selasa, 22 Juli 2008

Majalah Lama: "TOP" Tahun 1977




Penerbit: Yayasan Rama. Alamat: Jl. Kembung 122, Jakarta. Pemimpin Umum /Pemimpin Redaksi / Penanggung Jawab: S. Wardoyo; Benyamin TR; Eddy Kadarisman. Redaksi: Robani Bawi; Martha Boerhan; Theodore KS; Zainuddin Tamir Koto; Daniel Alexy.

Ini adalah edisi perubahan pertama dari majalah TOP, yang mulanya adalah majalah umum, menjadi Majalah Pria TOP. Delapan puluh tiga (83) edisi sebelumnya, TOP, seperti tertulis dalam "Salam Penerbit" edisi ini, "Dapat kita anggap sebagai masa remaja." Dan kini TOP (Majalah Pria) sudah menjadi dewasa.

Isinya tentulah berbagai informasi yang berkaitan dengan kehidupan pria dewasa. Mulai dari profil wanita, foto-foto seksi, wawancara tokoh terkenal, dan lain-lain. Ada juga ruang konsultasi psikologi yang digawangi oleh Darmanto Jatman. Juga ada Cerber (Cerita Bersambung) Oblada Obladi karya Yudhistira Ardi Noegraha.

Majalah yang tampak di blog adalah Edisi 84/Oktober 1977. Harga eceran: Rp. 400,-

Majalah Lama: "Kosgoro" Tahun 1964


Kosgoro sebagai "institusi" berdiri sejak 10 November 1957. Sedangkan majalah umum bulanan Kosgoro terbit mulai 10 November 1963. Haluan majalah Kosgoro adalah: Pancasila - Manipol - Usdek, dan mendukung serta dengan konsekuen membantu pelaksanaan cita-cita luhur Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno.

Majalah yang Anda lihat di blog adalah Kosgoro No. 11 Tahun I/September 1964, Harga eceran: Rp. 70,-. Pemimpin Umum: T. Atmadi. Wakil Pemimpin Umum: Soedjoko. Redaktur Pelaksana: Arifien D.P. Staf Redaksi: Soebiakto, S.H., Soehardi, S. Slamet, Drs. Harun Zain.

Majalah Lama: "Shinta" No. 01 Juli 1976


Penerbit: Yayasan Tri Karya Press, Jakarta. Alamat Redaksi: Jl. Kebon Jeruk 18 No. 6 B, Jakarta. Pemimpin Umum: Sujachman Kertopawiro. Wakil Pemimpin Umum: Suchrisna Chandra. Pemimpin Perusahaan: Andreas Ridwan. Pemimpin Redaksi (sementara): Wiryadinata Chandra. Managing Editor: Hoedi Soeyanto. Redaksi: Jajak MD. Artistik / Tehnis: Tholib Haris; Djoko Murdijanto; Purnomo Adhi; Suprapto Hr. Pembantu Khusus: Dr. Amoroso Katamsi; Drs. Sarlito Wirawan Sarwono; Ny. Kusumadewi; Linda Sastra.

Ini adalah majalah keluarga. Terbit pertama kali pada 1 Juli 1976. Edisi perdana yang saya miliki ini rupanya "salah jilid" atau binding. Halaman pertama majalah ini langsung no 7. Tak ada halaman 1 sampai 6. Semua keterangan mengenai penerbit dan redaksi saya ambil dari koleksi saya yang lain, yakni Shinta edisi No. 31 Tahun 1977. Isinya cukup bervariasi. Ada kisah nyata, profil orang, cerpen, dan masih banyak lagi. Juga ada sisipan gambar pola mode.

Majalah yang tampak di blog adalah edisi No. 01/Juli 1976 (Perdana). Harga: Rp. 400,-. Cover Depan: Lenny Marlina.

Senin, 21 Juli 2008

Majalah Lama: "Gelora Buruh" No. 2 Tahun 1963


Penerbit: Dewan Pimpinan Pusat K.B.K.I. Diusahakan oleh: Departemen Indoprop. Alamat Redaksi: Jl. Salemba Raya No. 73, Jakarta. Pelindung: Ali Sastroamidjojo. Penasehat: Surojo, S.H. Pimpinan Umum/Penanggung Jawab: Drs. Suwoso. Pemimpin Redaksi: Karna Radjasa, M.A. Staf Redaksi: Katamat, Moh. Iljas, Harjoto, Djapulung Purba, A. Eddy Pangin, Surjoto Bronto. Pembantu-pembantu Tetap/Ahli: Martiman, S.H., Usep Ranawidjaja, S.H., Bachtiar Salim Halloho, Sitor-Situmorang, Virga Belan, Ir. Surachman, Tadjudin Amin (Aceh), Amarz (Medan), Drs. Sutadji (Jateng), Drs. Corn. Ferdinandur (Irian Barat).

Isinya aneka masalah yang menyangkut perburuan saat itu. Termasuk undang-undang baru tentang perburuan.

Majalah yang tampak di blog adalah edisi No 2 Tahun I/1963. Harga: Rp. 25,-. Cover Depan: Ali Sastroamidjojo di tengah-tengah mereka yang berjuang untuk Marhaen dan Marhaenisme.

Album Kenangan: Acara Forum Demokrasi yang Dilarang (1992)


Kalau di televisi Indosiar pernah ada acara Tembang Kenangan, maka bolehlah foto-foto ini disebut Album Kenangan. Daripada rusak dimakan rayap dan berjamur, ya saya pasang aja di sini untuk kenang-kenangan he..he.he..

Apapun yang pernah kita alami, kita lakukan, tak mudah lenyap begitu saja. Ada suatu periode, di mana saya ikut aktif dalam suatu "perkumpulan" yang bernama Forum Demokrasi (FORDEM). Saya masih ingat, keterlibatan saya di kelompok ini adalah karena Rahman Tolleng, seorang aktivis politik senior yang baru saja berulang tahun ke-70 Juli 2008 lalu. Beliaulah yang mengajak saya untuk hadir dan aktif di acara-acara diskusi yang diselenggarakan Fordem, di sebuah rumah di Jl. Gondangdia, Jakarta Pusat. Saat itu Fordem juga baru saja dibentuk.

Singkat cerita, pada suatu hari di tahun 1992 (jadi jauh sebelum Reformasi), saya ditunjuk menjadi Ketua Panitia acara Halal Bihalal. Akhirnya kami memilih Taman Ismail Marzuki (TIM) sebagai tempat penyelenggaraan acara.

Melalui salah seorang rekan, kami mengajukan ijin ke pihak yang berwenang. Tapi ijin itu tak kunjung datang. Padahal gedung sudah saya pesan dan bayar. Teks pidato sudah diperbanyak. Undangan sudah dicetak dan diedarkan. Acara tak mungkin dibatalkan begitu saja.

Sore hari, sekitar pukul 16.00 Wib, saya merasa bahwa acara yang akan diselenggarakan nanti malam bakal mendapat masalah. Sebab sampai hari itu ijin tak kunjung datang. Lalu saya pergi menemui Rahman Tolleng di sebuah rumah di Jl. Jambu, Menteng, Jakarta Pusat. Tapi, pertemuan itu tak menghasilkan apa-apa, atau menghasilkan jalan keluar yang lain. Apa boleh buat, acara harus terus diselenggarakan.

Ketika hari mulai petang, sembari bersiap-siap untuk berangkat ke tempat acara, perasaan atau "firasat" bahwa kami akan mendapat masalah semakin mengental. Jantung semakin dag dig dug. Tapi saya berusaha tetap tenang. Saya lalu mandi, minum kopi, dan terus berusaha menenangkan hati. Saya putuskan untuk berangkat dari rumah agak telat. Akhirnya, setelah hati mulai tenang, saya pun berangkat menuju Taman Ismail Marzuki.

Benar saja, begitu saya memasuki halaman TIM, saya lihat banyak sekali petugas baik yang berpakaian dinas maupun tidak. Saya juga melihat tamu-tamu --sebagian besar adalah tokoh-tokoh nasional-- sudah cukup banyak yang datang.

Begitu saya turun dari kendaraan dan berjalan menuju tempat acara, salah seorang petugas yang mengenal saya dan tahu bahwa saya ketua panitianya, segera menunjuk ke arah saya: "Nah, itu dia orangnya!"

Maka saya pun segera "disambut" oleh beberapa petugas berpakain dinas dan preman. "Mohon maaf, apakah acara ini sudah ada ijinnya?" tanya salah seorang petugas kepada saya (padahal tentu dia tahu ya kalau acara itu memang tak ada ijinnya he.he..he.).

"Kami sih sudah mengajukan, Pak. Tapi sampai saat ini belum keluar," jawab saya.
"Wah, kalau begitu ya acara ini harus dibubarkan. Tidak boleh diteruskan," katanya.
"Dibubarkan bagaimana? Undangan sudah begini banyak yang datang?"
"Ya tetap harus dibubarkan..."

Akhirnya kami melakukan negosiasi di ruangan yang ada di bagian depan gedung tersebut. Mula-mula saya sendiri. Kemudian ditemani oleh Todung Mulya Lubis (Foto 1) dan menyusul kemudian Rocky Gerung beserta rekan-rekan lain.

Gagal. Kami tetap diminta untuk membubarkan acara. Saya menolak. "Kita tunggu Gus Dur saja dulu," kata saya.

Tak lama kemudian Gus Dur pun muncul. Saya katakan kepada beliau bahwa acara diminta untuk dibubarkan oleh petugas. Gus Dur akhirnya melakukan negosiasi dengan petugas tersebut. Juga gagal. Saya, Gus Dur, Mulya dan rekan lain meninggalkan ruangan (Foto 2). Kepada para petugas itu, Gus Dur sangat marah.

Setelah berunding singkat, kami memutuskan untuk "membubarkan diri". Gus Dur naik ke podium dan memberikan pernyataan. Makalah tetap dibagikan. Akhirnya acara pun dianggap selesai.

Acara formal memang batal, tetapi sebetulnya tujuan kami pun tercapai. Sebab pernyataan sudah kami bagikan. Di podium itu pun Gus Dur sudah mendapat waktu untuk mengeluarkan pernyataan, selain mengatakan bahwa acara terpaksa dibatalkan.

Melihat "kesuksesan" itu, masih di halaman gedung, secara bercanda Marsillam Simanjuntak berkata kepada saya: "You sudah menulis dengan tinta emas dalam perjuangan demokrasi.." Saya hanya tersenyum simpul. Saya tahu dia sedang bercanda.

Di kemudian hari, peristiwa itu sesekali menjadi guyonan di antara kami. Rahman Tolleng, misalnya, di tengah teman-teman lain meledek saya.

"Sore-sore dia datang ke tempat saya, lha apa dikira saya ini punya beking?" katanya sembari tertawa. "Kita aja kalau ditangkap nggak tahu mau minta tolong siapa...he..he.."

Ya, begitulah kenangan manis itu pernah kami lalui bersama teman-teman di Forum Demokrasi. Ada-ada saja ya.

Majalah Lama: "Kunthi" Tahun 1969





Penerbit: Yayasan Penerbit "Lohjinawi". Alamat Redaksi: Jl. Merdeka Barat No. 20, Jakarta. Pemimpin Umum / Pemimpin Redaksi / Penanggung Jawab: Drs. G. Dwipajana. Wakil: Surya-Hadi, H.A.



Majalah ini terbit sejak Agustus 1969. Tujuannya adalah untuk: "Anggajuh Kaluhuraning Kebudajaan lan Kemadjuwaning Bangsa".

Meski bernama Kunthi, majalah ini bukan ditujukan khusus untuk kaum wanita. Juga bukan majalah wayang. Ini adalah majalah umum. Nama "Kunthi" dipilih karena ia adalah seorang Ibu. Ibunya Pandawa, yang bisa mendidik anak-anaknya menjadi satria berguna bagi nusa dan bangsa.

Selain berisi artikel-artikel umum, juga selalu ada rubrik bernama "Kepresidenan". Rubrik ini memuat berbagai aktivitas Presiden Soeharto dan acara-acara yang terjadi di Istana.

Di halaman akhir juga selalu ada foto-foto menarik untuk dilihat lagi atau untuk dikenang. Misalnya, dalam Majalah Kunthi No. 2 tahun 1969, di halaman akhirnya ada foto anak ragil mantan Presiden Soeharto: Siti Hutami Endang Adyningsih Soeharto, yang sedang mencoba bermain 'gender'. Harga eceran Rp. 70,-

Fiksi: "Sajak-sajak Sepatu Tua"


Judul: Sajak-sajak Sepatu Tua.
Pengarang: Rendra.
Penerbit: Pustaka Jaya, Cet. Keempat, 1983.
Tebal: 93 halaman.

Majalah Baru: "Cerita Kita" Edisi Perdana




Penerbit: PT Penerbit Herakles Indonesia. Alamat Redaksi: Tamini Square, Blok FS 56/6, Jl. Taman Mini Raya, Jakarta Timur. Editor: K. Atmojo. Guest Editor: Ashadi Siregar, Jujur Prananto, Putu Wijaya, Seno Gumira Ajidarma.

Ini adalah majalah kumpulan cerita pendek remaja. Majalah ini diterbitkan dengan maksud untuk menampung kreativitas remaja dalam bidang penulisan fiksi, sekaligus untuk memenuhi kebutuhan mereka terhadap bacaan fiksi yang baik.

Majalah yang tampak di blof adalah Volume I/Tahun I/November 2005. Harga: Rp. 15.000,-

Fakta2 Ganefo - Oktober 1963


Majalah tengah bulanan ini diterbitkan oleh Urusan Peneranan Panitia II Komite Nasional Ganefo 1963. Kantornya ada di Jl. Anggar No. 75, Komplek Gelora Bung Karno, Jakarta.

Isinya sebenarnya sederhana saja, yakni ada laporan aktivitas beberapa cabang olahraga yang akan ikut bertanding, rencana panitia, persiapan acara kesenian, dan lain-lain beserta foto-foto

Tapi, yang “agak seram” justru di alenia pertama Kata Pengantar-nya. Saya kutipkan saja (ejaan saya ubah menjadi ejaan baru): “Games of the New Force tidaklah semata-mata merupakan arena olahraga dari kekuatan-kekuatan baru di dunia saja, tetapi juga dan terutama untuk menggalang persatuan, persahabatan dan pemaduan tekad serta kekutan yang maha besar untuk menghancur-leburkan kekuatan-kekuatan lama yang dipelopori oleh kaum imperialism-kapitalisme dalam segala manifestasinya, termasuk di bidang olahraga dan kesenian.”

Nah, yang “lebih seram” lagi adalah tulisan di bagian dalam cover belakang. Saya kutipkan saja lagi:

Teks Plakat-plakat untuk Aksi Menggugurkan Malaysia, yang telah dilancarkan di Jakarta pada tanggal 16 September 1963.

1. Siap Berlomba Mengubur Malaysia.
2. Sambil Berlomba Mengganyang Malaysia.
3. Berlatih, Berlomba untuk Mengganyang Malaysia.
4. Ganyang Malaysia, Hidup Kalimantan Utara.
5. Gagalkan Malaysia, Kaki Tangan Imperialis.
6. Olahragawan Manipolis Siap Gempur Neokolonialis.
7. Olahragawan Siap Sedia Mengganyang Malaysia.
8. Olahragawan A-A-A Anti Malaysia.
9. Berolahraga Giat – Malaysia Kita Sikat.
10. Olahragawan Sigap dan Kuat – Imperialis Kolonialis Pasti Terkikis Habis.
11. Rawe-rawe Rantas, Malang-malang Putung – Malaysia Lahir Kita Pentung.
12. Holopis Kuntul Baris, Malaysia Neo Kolonialis, Kita Sikat Sampai Habis.

Minggu, 20 Juli 2008

Bundel Pembina Bahasa No. 1 Tahun I Juli 1948 sampai No. 12/Juni 1949


Bundel berisi Edisi I/Juli 1948 sampai Edisi 12/Juni 1949. Tujuan majalah bulanan ini sangat jelas, seperti yang tertulis di sampulnya, yaitu untuk memajukan Bahasa Indonesia. Majalah yang dipimpin oleh S. Takdir Alisjahbana ini diterbitkan oleh Pustaka Rakjat yang berkantor di Jl. Sukabumi No. 36, Jakarta.

Pada edisi perdana, Sutan Takdir Alisjahbana membuat tulisan khusus tentang pentingnya tertib berbahasa. Dalam kaitan untuk memajukan bahasa Indonesia, Sutan Takdir melihat betapa pentingnya usaha untuk mempersatukan kata-kata, mempersatukan ejaan, mempersatukan tata bahasa, dan jalan kalimat.

Beliau juga memaparkan perihal kaitan antara bahasa dan pikiran. Salah satu semboyan terkenal dari Dr. Nieuwenhuis yang dikutip beliau adalah, “Bahasa kadang-kadang berupa bunyi, kadang-kadang berupa tanda, tetapi selalu berupa pikiran!” Lalu Sutan Takdir pun berkata: “Apabila kita dapat berkata, bahwa pikiranlah yang membedakan manusia dengan hewan, kita pun dapat berkata, bahwa bahasalah yang membedakan manusia dengan hewan!"

Di akhir majalah selalu dimuat beberapa lembar daftar istilah-istilah dengan terjemahannya dari berbagai bidang kehidupan: mulai dari istilah tumbuh-tumbuhan, istilah ekonomi dan dagang, sampai istilah tentang Jahit-menjahit!